Perjalanan Hidup: Kegagalan Membuatku Mengenal Tuhanku (2)

Oleh: Nilna Milchatina (Mudabbiroh Mabna Syarifah Muda’im)

 

Hari-hari yang kujalani sejak setelah diumumkannya ketidaklulusanku masuk Fakultas Kedokteran sangat tidak etis, yang kulakukan pada saat itu marah, nangis, tidak mau diajak ngomong siapapun. Ya, hanya itu yang aku lakukan, aku seperti orang gila, aku seperti orang yang tidak pernah mengenyam dunia pendidikan, aku seperti orang yang tidak pernah belajar ilmu agama, aku seperti orang yang tidak menegenal tuhan dan aturan agama, rasanya aku tidak ingin lagi melanjutkan pendidikanku di universitas. Setiap aktivitas yang aku lakukan selalu diisi dengan tangis. Kondisiku seperti ini berlangsung kurang lebih selama 10 hari. Orang tuaku melihat aku seperti ini pun ikut menangis, merasa iba, dan tau apa yang dirasakan anaknya. Setiap hari selalu memberi wejangan dan motivasi supaya aku bisa bangkit kembali seperti dulu, aku yang semangat dalam melakukan hal apapun. Namun tidak satupun wejangan yang mereka berikan kepadaku aku terima. Aku menutup telingaku rapat-rapat. Yang aku lakukan hanya menangis dan marah. Aku marah karena mengapa mereka menyutujui kotrak itu, seandainya aku tidak tau kontrak itu mungkin aku tidak akan segila ini. Sebenarnya akupun ingin menyudahi tingkahku yang seperti ini, namun jika aku teringat, hal itu lebih membuatku histeris dari sebelumnya. Aku tidak keluar kamar kecuali hanya ke kamar mandi. Makanpun aku diantarkan tiap hari ke kamarku. Bisa dibilang momen ini merupakan momen terburuk dalam hidupku.

Rasa penasaran mengapa aku tidak diterimapun sangat kuat, hingga akhirnya ayahku menanyakanya kepada kakak sepupuku. Dengan jawaban bahwa latar belakang sekolahku yg masih Madrasah Aliyah Swasta lah yang menjadi penyebab tidak diterimanya aku. Seketika itupun aku sangat membenci Almamaterku, aku menyesal pernah sekolah disitu, mengapa aku dulu tidak memilih sekolah yang favorit, bagus, dan lain-lain. Rasa campur aduk terus menyalahkan pada keadaan itulah yang aku rasakan di hari-hari gelapku.

Pada suatu waktu, adikku sakit Demam Berdarah yang mengharuskanya di Opname. Otomatis jika di opname, keluargaku harus pindah sementara dirumah sakit karena untuk mengurus adikku yang sedang sakit. Melihat kondisiku yang masih seperti itu nenekku tidak tega meninggalkanku, tapi adikku sangat membutuhkannya, karena selama ini yang mengurus adikku yang sakit adalah nenek. Dengan kondisiku yang seperti itu akhirnya keluar suatu kalimat dari mulut beliau kepadaku “Kamu dari kecil ditaruh di pondok pesantren supaya tahu agama, tapi hidupmu kok kayak tidak punya iman sih nduk, masak masalah seperti ini aja kok sampek begitu” ucapnya. Ketika aku mendengar apa yang beliau ucapkan, hatiku berdebar hebat. Rasanya seperti dapat cambukan yang sangat dahsyat. Seketika itu mulai sedikit tersadar dan seketika itupun aku menangis sambil memeluk nenekku erat-erat. Kami berdua larut dalam suasana hening dan sama-sama menangis. Aku ingin segera lepas dari kondisi seperti ini. Akhirnya karena tidak tega meninggalkanku, nenek pun mengajakku kerumah sakit. Di tempat ini justru aku lebih merasa syok, karena disini aku bertemu banyak dokter. Rasanya pengen marah jika bertemu mereka. Perasaan iri terus muncul karena mengapa Allah tidak mengizinkanku menjadi seperti mereka.

Pikiranku terus terngiang-ngiang oleh kalimat yang diucapkan nenek sebelumnya, rasanya jauh sekali aku dengan Tuhanku, rasanya begitu jauh aku meninggalkanya, tidak mengandalkannya, tidak pernah bermunajat lagi kepadanya seperti dulu aku menginginkan mimpiku. Aku baru tersadar jika segala sesuatu yang terjadi adalah Qodlo-qodar-Nya. Apapun yang diberikannya memang sesuatu yang terbaik buat kita. Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan, apa yang kita butuhkan itulah yang terbaik untuk kita.

Sejak saat itu aku lebih belajar lagi, bagaimana aku menjadi hamba, yang diciptakan untuk tunduk dan ibadah. Aku mencoba bersyukur disetiap keadaan walupun itu sangat susah dijalani. Aku mulai menjalani hari-hariku lagi seperti biasanya. Alhasil keinginanku yang menggebu-nggebu ingin menjadi dokter hilang seketika. Allah ternyata menyiapkan banyak kejutan dibalik kegagalanku. Banyak sekali hal yang aku dapat yang saking banyaknya sampai tidak bisa disebutkan satu-satu setelah aku menjalani hidupku yang baru. Aku baru tersadar jika bahagia datang setelah kita bersyukur dan taat pada-Nya, bukan kita mendapat kebahagiaan dulu baru kita bersyukur. Terimakasih Allah karena sudah membuatku menjadi hamba yang lebih mengenal Tuhannya. Maafkan aku dengan segala tingkah burukku selama ini. Semoga dengan berjalanya waktu, rahmat, ridha, dan hidayah yang selalu kau berikan kepada kami hambamu yang sangat butuh akan itu.

#Tulisan ini diambil dari blog pribadi milik Nilna Milchatina

http://nilnamilchatina.blogspot.co.id/2018/02/kegagalan-membuatku-mengenal-tuhanku.html

Leave a Reply

Your email address will not be published.