MUTIARA-MUTIARA YANG AKAN HILANG

 

Oleh : Muhammad Sholeh Hasan (Pengasuh Asrama Putra / Ma’had Syaikh Abdul Karim / Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Kegiatan bertadarus al-Quran di masjid-masjid jami’ dan mushalla-mushalla pada bulan Ramadhan merupakan sebuah tradisi yang sangat baik dan hal itu sangat dianjurkan oleh kanjeng Nabi Muhammad SAW. Salah satu masjid yang ikut meramaikan malam-malam bulan Ramadhan dengan bertadarus al-Quran adalah Masjid goiru jami al-Nur. Para bapak dan pemuda – salah satunya saya sendiri-ikut bertadarus al-Quran dengan cara membaca al-Quran secara bergiliran. Disela-sela waktu menyimak orang lain membaca al-Quran, saya terlibat obrolan dengan salah satu jama’ah disebelah saya, salah satu pernyataan yang sangat mencengangkan ialah” apabila generasi yang sekarang ini – yang sedang melakukan tadarus al-Quran – sudah wafat maka warga masjid goiru jami al-Nur ini akan kehabisan generasi yang bisa membaca al-Qurandan remaja-remaja sekarang ini sudah tidak bisa diharapkan lagi untuk bisa tampil menjadi pengganti – para bapak dan para pemuda sekarang ini – dalam membaca al-Quran yang sesuai dengan kaidah tajwid yang benar. Pernyataan ini membuat saya termenung “mengapa hal ini harus terjadi? Padahal di kampung Ujung Harapan ini ada sebuah lumbung padi yang sangat besar dan lumbung padi itu sangat mampu memenuhi kebutuhan generasi Ujung Harapan dalam pengembangan dan pendalaman cara membaca al-Quran dengan benar sesuai ilmu tawid. AINA AL-KHALAL? (kata orang Arab). Kemudian mengapa generasi tua sekarang ini pandai-pandai dalam membaca al-Quran bahkan bukan hanya para ustajnya saja tetapi para bapak yang pekerjaan tetapnya sebagai pekerja bangunan, supir angkot, tukang sayuran, tukang Ayam dan tukang ojek motor juga pandai-pandai dalam membaca al-Quran. Sangat mulia generasi tua sekarang ini, mereka berhasil menjadi orang-orang yang mampu membaca al-Quran dengan tajwid yang benar, bahkan dengan makharij (cara melafalkan huruf-huruf al-Quran) yang sangat baik dan sedikit dihiasi dengan lagu-lagu khusus membaca al-Quran, satu kelebihan  yang membuat mereka memiliki ciri khas tersendiri dan membedakan mereka dari masyarakat luar Ujung Harapan. Sangat mulia pula  guru mereka, kalaulah guru mereka bukanlah seorang yang sangat ‘Alim dalam hal makharij dan tajwid  al-Quran, tidak mengenal lagu-lagu al-Quran, bukanlah seorang penyabar serta tidak tekun dalam membimbing mereka, mustahil lahir sebuah generasi seperti mereka yang mayoritas mampu membaca al-Quran dengan baik. Semoga Allah SWT menganugrahi guru mereka ampunan dan rahmatnya, serta menempatkannya ditempat yang penuh nikmat. Amin ya Mujibassailin.

Cepat atau lambat para generasi tua akan kembali kepada Allah SWT, lalu bagaimana tradisi tadarusan al-Quran ini tetap terus berjalan seperti sekarang, kemudian bagaimana upaya membuat generasi sekarang dan generasi yang akan datang mampu membaca al-Quran dengan benar seperti generasi tua sekarang ini? Saya sering mendengar pernyataan generasi tua yang menunjukan sifat fesimis, 99,9% mereka meyakini kalau pada waktu yang akan datang, Ujung Harapan tidak lagi memiliki generasi yang mampu membaca al-Quran dengan benar. Saya suka bertanya kepada mereka, apakah lumbung padi yang sangat besar yang berada di ujung Harapan ini pun tidak bisa menjawab problem ini? Mayoritas mereka menjawab, Bisa! tapi sangat sulit! Wallahu a’lam, Aina al-Khalal?

Penulispun terus merenung dengan situasi dan kondisi para pelajar Tsananwiyah dan Aliyah sekarang ini, sudah jarang yang mengikhlaskan dirinya mendalami belajar membaca al-Quran, lagi-lagi AINA AL-KHALAL? Penulis takut, untuk masa yang akan datangjangankan tukang kuli bangunan, tukang sayur mayur, tukang ayam, tukang ojeg motor atau tukang jaring ikan di kali, ustajnya saja tidak bisa membaca al-Quran” dan hal ini 99,9% sangat mungkin terjadi.

Solusi yang bisa ditawarkan dari paparan di atas :

Ilmu pengetahuan tidak akan bisa diwariskan kepada generasi berikutnya kacuali setelah ada beberapa faktor pendukung (setidaknya ada 4 faktor).

  1. Murid yang cerdas dan bersungguh-sunguh serta sabar dalam menimba ilmu pengetahuan. Para murid inipun harus diberi tau bahwa ilmu membaca al-Quran tidak sebatas riwayat Hafas dari imam ‘Ashim saja tetapi masih banyak ilmu-ilmu qiraat lainnya atau yang sering disebut ilmu qiraat sab’ah yang harus mereka ketahui, oleh karena itu minimal mereka harus ‘alim pada bacaan yang sekarang ini beredar dilingkungannya.
  2. Guru yang betul-betul ‘Alim (profesional), tekun, bersungguh-sungguh, sabar, ikhlas dan telaten membimbing murid-muridnya. Seperti guru membaca al-Quran, kalau saja gurunya tidak tahqiq dalam makharij al-Huruf, tidak apik alias jorok dalam tajwid yang terdiri dari Izhar, Ikhfa, Idgham dan iqlab,bagaimana mungkin dia bisa melahirkan murid-murid yang pandai dan apik dalam membaca al-Quran dengan tajwid yang benar.
  3. Fasilitas pendidikan yang disediakan khusus belajar membaca al-Quran. tempat-tempat pengajian yang digunakan oleh generasi-generasi tua sangat sederhana, namun itu tidak menghalangi mereka untuk menjadi orang yang pandai dalam membaca al-Quran. Dengan kesabaran mereka, keikhlasan mereka, kesiapan mereka untuk menerima hukuman disaat mereka tidak bisa melafalkan makharij yang benar atau istilah lamanya menggunakan mad cari. Menjadikan mereka sekarang orang-orang yang pandai membaca al-Quran.
  4. Metode belajar yang diterapkan. Metode belajar yang pernah dialami oleh generasi lama tidak terlalu rumit, tidak perlu repot-repot menggunakan media pembelajaran gaya modern tetapi hasilnya sangat jelas. Karena kesungguhan, ketekunan, kesabaran, ketelatenan dan keikhlasan antara guru dan para murid membuat proses belajar/mengajar menjadi indah ketika diceritakan pada zaman sekarang ini.
  5. Ingat! Buat adik-adik yang akan menjadi penerus generasi sekarang, mustahil anda akan menjadi seorang kyai (kalau anda bercita-cita menjadi seorang kyai) kalau tidak memiliki tiga syarat utama (selain ini banyak syarat tambahan) :
  6. Pandai dalam membaca al-Quran dengan makharij dan tajwid yang benar.
  7. Pandai dalam membaca dan memahami kitab kuning, apakah kitab kuning itu ditulis oleh ulama salaf (dulu) atau ulama khalaf (sekarang).
  8. Berakhlaq dan berprilaku sesuai dengan ilmu yang anda miliki, baik dimasa bujangan atau sudah berumah tangga. Pici Haji yang sangat mangklik di kepala kamu dan sorban yang selalu berselendang di pundak kamu tidak akan punya arti apa-apa kalau itu semua tidak dibarengi dengan belajar yang rajin, tidak mau belajar membaca al-Quran dan tidak bersungguh sungguh dalam mendalami ilmu Nahwu dan ilmu Sharaf serta ilmu Bahasa Arab.

عن عبدِ الله بن عمرِو بن العاصِ رضي اللهُ عنه قال : سمعتُ رسولَ الله صلى الله عليه وسلم يقول :” إن اللهَ لا يَقْبِضُ العلمَ انتِزَاعا يَنْتزِعُهُ من الناس ولكن يقبض العلمَ بِقبْض العلماءِ حتى إذا لم يُبْقِ عالما اتخذ الناسُ رُؤُوْسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ علم فَضَلُّوا وأَضَلُّوْا” متفق عليه

Dari Abdullah bin Amr bin al-Ash RA. Berkata : Aku mendengar Rasulullah bersabda, sesungguhnya Allah SWT tidak akan mencabut ilmu pengetahuan dengan cara mencabutnya dari manusia akan tetapi Allah SWT mencabutnya dengan mencabut para ulama (mewafatkannya) sehingga apabila tidak tertinggal (masih hidup) seseorang yang ‘alim disatu tempat niscaya masyarakat menjadikan para pimpinannya dari orang-orang bodoh, maka ketika mereka ditanya tentang pengetahuan, mereka akan menjawab tidak dengan dasar pengetahuan, mereka sesat dan mereka juga menyesatkan orang lain. (Hadits riwayat imam Bukhori dan imam Muslim).

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.