SARASEHAN HARI SANTRI NASIONAL 2026: MAHASANTRI MA’HAD AL-JAMI’AH TEGUHKAN NILAI PERJUANGAN SANTRI
SARASEHAN HARI SANTRI NASIONAL 2026: MAHASANTRI MA’HAD AL-JAMI’AH TEGUHKAN NILAI PERJUANGAN SANTRI

Ciputat, Tangerang Selatan — Ma’had Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyelenggarakan Sarasehan Hari Santri Nasional 2026 pada Jumat, 16 Oktober 2026, di Masjid Fathullah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Kegiatan yang diselenggarakan melalui Organisasi Mudabbir Mudabbiroh (OMM) ini diikuti sekitar 1.000 peserta dan menghadirkan Dr. K.H. M. Adnan Anwar, M.A. sebagai narasumber.

Mengangkat semangat refleksi atas perjuangan para ulama dan santri, sarasehan ini dirancang sebagai sarana mensyukuri nikmat kemerdekaan. Ketua Panitia, Wildan Maulana, dalam laporannya menyampaikan harapan agar kegiatan ini dapat membangun rasa syukur kepada Allah SWT. “Mudah-mudahan acara kita ini bisa membangun rasa syukur kita kepada Allah SWT yang mana atas jasanya para santri-santri dulu, atas jasanya para kiai-kiai dahulu, kita bisa merdeka dibantu oleh para santri dan para kiai,” ujarnya. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada pimpinan universitas, pengasuh Ma’had, para narasumber, panitia, dan seluruh mahasantri yang hadir.

Acara dibuka oleh Kepala UPT Ma’had Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Dr. H. M. Nurul Irfan, M.Ag., yang menyapa narasumber, yakni Dr. K.H. M. Adnan Anwar, M.A. dan salah satu tamu undangan, yakni Dr. M. Suryadinata, M.Ag. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan bahwa sistem pembinaan mahasantri di Ma’had Al-Jami’ah berlangsung selama satu tahun. Suasana kemudian dibangun dengan ajakan berdiri dan menyanyikan bersama lagu Ya Lal Wathan (Syubbanul Wathan), sebagai wujud kecintaan kepada tanah air.

WhatsApp Image 2026-10-19 at 07.58.13

Dalam pemaparan materinya, Dr. K.H. M. Adnan Anwar, M.A. menyoroti sejumlah hal. Ia mengingatkan bahwa sebagian mahasantri berlatar belakang non-pesantren dari SMA dan SMK, namun memiliki tekad kuat untuk menjadi santri. Indonesia, menurutnya, dapat diposisikan sebagai pusat peradaban dan spiritualitas Islam dunia berkat kekuatan budaya, nilai moral, dan karakter Islam yang moderat.

Narasumber juga menelusuri sejarah perjuangan para kiai. Ia mengisahkan peran HadratussyaiK.H. K.H. Hasyim Asy’ari yang menurut tradisi NU, melakukan tirakat sebelum memberikan restu atas rumusan Pancasila. Ia juga menyinggung syair Ya Lal Wathan yang diciptakan K.H. Wahab Chasbullah pada 1916, serta peran K.H. Wahid Hasyim dalam pendirian Kementerian Agama dan peletakan tonggak IAIN/UIN di Indonesia.

Menatap masa depan dan visi Indonesia Emas 2045, santri diimbau siap menghadapi tantangan zaman, baik sosial, politik, maupun gerakan yang memusuhi agama. Mereka juga didorong untuk berani mengambil peran kepemimpinan strategis bangsa, dengan tetap berpegang pada kedalaman spiritual dan tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah.

Sesi tanya jawab turut memperkaya diskusi. Menjawab pertanyaan mahasiswa tentang dinamika politik dan kritik terhadap oknum di media sosial, Dr. K.H. M. Adnan Anwar, M.A. menekankan pentingnya santri masuk ke ranah kebijakan publik sebagai agent of change, agar mampu membawa perbaikan tanpa ikut terwarnai oleh pembusukan sistem.

Sarasehan ini menegaskan kembali bahwa nilai-nilai kesantrian harus menjadi bekal mahasantri dalam menghadapi zaman. Melalui kegiatan seperti ini, Ma’had Al-Jami’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta berharap lahir mahasantri yang berakhlakul karimah, berkarakter kuat, dan siap berkontribusi bagi umat, bangsa, dan peradaban.#IM.DI