Perjalanan Hidup: Kejar Mimpi ke Luar Negeri!

Oleh: Acep Lukman Nul Hakim (Mudabbir Mabna Syekh Nawawi)

(Kuala Lumpur Malaysian, Merlion Singapore dan Hatyai, Thailand)

 

Acep Lukman Nul Hakim, biasa dipanggil Acep asli dari kota dodol Garut, Jawa Barat berhasil meraih mimpinya untuk pergi ke luar negeri secara cuma-Cuma. Dalam setahun dua kali ke tiga Negara Malaysia-Singapore dan Thailand. Dia, adalah Mahasiswa yang sedang menempuh studi di Pendidikan Biologi 5A, UIN Jakarta sekaligus Mudabbir Mabna Syekh Nawawi UIN Jakarta.

Mimpi yang dulu pernah ia tulis di sebuah buku 500 cita-citanya, ternyata sang pencipta mengabulkan doanya. Berawal dari sebuah nekad dengan membuat paspor dari Garut ke Bandung yang memakan waktu lama membuatnya geram untuk pergi ke luar negeri minimal setahun sekali. Perjuangan tidak hanya sampai di situ. Kemampuan bahasa Inggris yang biasa saja, modal tabungan yang apa adanya, membuat usaha untuk pergi ke luar negeri tidak pernah luluh. Berbagai perlombaan maupun kegiatan International pun terus dicoba walaupun masih tetap gagal. Suatu hari pernah ia berhasil lolos seleksi untuk pergi ke tiga Negara, dan fakultas telah mendukung penuh untuk membiayai. Namun, ternyata kegiatan tersebut tidak terlaksana oleh penyelenggara.

Keinginan untuk pergi ke luar negeri, tidak lain untuk mengenal bagaimana kehidupan, kebudayaan, bahkan gaya belajar di Negara tetangga. Walaupun hal tersebut dapat diakses dengan mudah di jaringan internet. Namun, ada niat lain, yaitu bersilaturahmi dengan teman yang dulu pernah seasramanya di Ma’had UIN Jakarta. Ia bernama Bunyamin Yakoh asli dari Hatyai, Thailand. Keinginannya pun tercapai setelah ia mengikuti kegiatan International Program Conference and Comparative di Malaysia-Thailand selama seminggu 01-07 Maret 2017. Salah satu program visitasi universitasnya ternyata di Universitas dimana Bunyamin berkuliah, yaitu Prince of Songkhla, Hatyai. Perjumpaan tersebut merupakan salah satu kenangan yang tidak pernah terlupakan. Disamping itu, juga dapat berkeliling di malam hari di salah satu kampus unggulan di Thailand. Namun, hanya saja tidak bisa berjumpa dengan kawan di Malaysia, tepatnya di Universiti Sains Islam Malaysia (USIM).

Pengalaman pertama keluar negeri dengan kali kedua menaiki pesawat terbang menjadi momen berharga dapat berbagi pengalaman dengan kawan-kawan Muslim di sana. Budaya, cara belajar, tingkah laku, bahasa, mata uang, wisata, makanan, dan suasana yang berbeda. Perjalanan lima hari tersebut sangatlah singkat dan menginginkan untuk pergi kedua kalinya.

Pengalaman yang telah didapatkan selama perjalanan keluar negeri tersebut, membuahkan tawaran untuk menjadi seorang pemandu wisata (Travel Guide) di salah satu Travel di Jakarta, mereka pun menawarkan untuk program yang sama, namun menambah menjadi tiga negara yaitu Malaysia-Singapore-Thailand. Keinginan dan doa yang ia panjatkan di sana ternyata Sang Khalik mengabulkannya. Apalagi salah satu Negara, yakni Singapura, yang belum pernah dikunjungi. Masa-masa SMP dulu ia hanya bisa mengedit foto di sebelah patung Singa ataupun Menara Eiffel di Paris yang membuat cercaan teman-teman media social lainnya. Namun, kali ini menjadi bukti nyata untuk mengikuti program International Conference dan Comparative di Malaysia-Singapore-Thailand, 22-29 Agustus 2017 selama seminggu pula.

Pengalaman kedua ke luar negeri dengan biaya gratis bahkan dibayar memang tidaklah mudah didapatkan. Perbedaannya untuk yang pertama kali sebagai peserta dan yang kedua sebagai pembimbing. Namun, tetap saja memberikan kesan yang berharga karena belum pernah mengunjungi si patung Singa. Segala kemajuan yang dimiliki oleh Singapura dengan hanya luas Negara sebesar kota Jakarta tersebut menjadi daya tarik wisata sendiri. Lingkungan bersih, rapih dan tidak kumuh, namun dengan harga (biaya hidup) yang relatif mahal.

Hal yang paling menarik dalam perjalanan ke luar negeri salah satunya adalah dapat membantu mengajar anak-anak di salah satu TK di Johor Bahru, Malaysia. Mengajarkan bahasa Inggris diantara anak-anak mayoritas keturunan China di Malaysia. Sistem edukasi yang menyenangkan membuat anak-anak belajar dengan mudah. Mereka sangat pintar dan bersemangat dalam belajar.

Perbedaan antar Negara tetangga menyadarkan bahwa betapa indahnya sebuah perbedaan yang menciptakan keselarasan. Perbedaan tersebut saling melengkapi satu sama lain dan menjadi daya tarik kemajuan suatu Negara tersebut. Namun, ketika berbicara budaya, Indonesialah juaranya.

Manusia bebas bermimpi, mimpilah setinggi-tinggana, dituliskan, didoakan, dan diusahakan. InsyaAllah Allah akan mengabulkannya. Semoga pengalaman ini dapat menambah semangat untuk meraih mimpi Anda untuk go abroad. I(M) Possible dan Ora et Labora (Usaha dan Doa). (ALNH)

Nantikan pengalaman lengkapnya di Artikel selanjutnya!

 

(Kegiatan Pengabdian dengan Mengajar siswa-siswi TK di Johor Bahru, Malaysia)

   
Foto bersama Bunyamin Yakoh di halaman Asrama Prince of Songkhla, Hatyai Thailand Kegiatan Seminar di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *